Lundsgaardmarkussen8's website

Our website

23
Ja
Arti Aqiqah Menurut Agama Islam
23.01.2017 05:49


Pikir bahasa ‘Aqiqah artinya: menyabet. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang beserta penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah merupakan nama untuk hewan yang disembelih, disebut demikian karena lehernya dipotong Ada pun yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Rambut yang tersembunyi pada oknum si balita ketika ia keluar atas rahim ibu, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, atau 21. Jumlahnya 2 sudut untuk bocah laki-laki dan 1 kontrol untuk budak perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Semua anak bocah tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi seri dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang serupa dan budak perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bertitah: “Aqiqah dilaksanakan karena kemunculan bayi, jadi sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Daripada ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, daripada kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi dipastikan hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sempat ber ‘aqiqah untuk Rancak dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, beliau memberi nama dan mengharuskan supaya dihilangkan kotoran atas kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak surah 4, hal. 264]

Keterangan: Hasan serta Husain ialah cucu Rasulullah SAW.

Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Laksmi, dia berkata: Rasulullah berfirman: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Pedoman Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) cocok pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan paling banyak ulama ahli fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai per kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah ialah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya selekeh (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Sidang: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah amanat, namun bukan bersifat tetap, karena ada sabdanya yang memalingkan mulai kewajiban yaitu: “Barangsiapa diantara kalian ada yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh sebab itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Abu Dawud serta An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan saksi dusta yang memutar perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Sultan berkata: Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), gak boleh di dalam aqiqah ini hewan yang picak, renyah, patah rangka, dan sakit. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam hewan aqiqah berikut cacat-cacat yang tidak diperbolehkan di dalam qurban.

Buraidah berkata: Dahulu kami di masa jahiliyah apabila khilaf seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan menconteng kepalanya secara darah kambing itu. Dipastikan setelah Tuhan mendatangkan Islam, kami memotong kambing, menjatuhkan (menggundul) kepala si budak dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Bubuk Dawud perkara 3, sesuatu. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di dalam masa jahiliyah apabila itu ber’aqiqah untuk seorang budak, mereka mengotori kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu saat mencukur serabut si budak mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW berfirman, “Gantilah kebiasaan itu beserta minyak wangi”.[HR. Putra Hibban beserta tartib Putra Balban bagian 12, sesuatu. 124]

Kegiatan aqiqah pikir kesepakatan karet ulama merupakan hari ketujuh dari kemunculan. Hal itu berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW bersabda, “Seorang budak terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh serta diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak pula, maka di dalam hari ke-21 atau masa saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) kepada dasar permintaan, maka sekiranya menyembelih dalam hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah sempurna. Karena rukun ajaran Islam adalah mempermudah bukan menyusahkan sebagaimana petuah Allah SWT: “Allah mengkhayalkan kemudahan bagimu dan gak menghendaki pertengkaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini menurut sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi pamor. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan apabila tidak siap melaksanakannya dalam hari ketujuh, maka dapat dilaksanakan saat hari ke empat belas kasihan, dan jikalau tidak siap, maka di dalam hari ke dua persepuluhan satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Putra Buraidah daripada ayahnya daripada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih di dalam hari ketujuh, ke 4 belas, dan ke dua puluh wahid. ” (Hadits hasan hal Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga minggu masih gak mampu maka kapan aja pelaksanaannya pada kala sudah mampu, sebab pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, di empat belas kasihan dan di dua persepuluhan satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama sungguh wajib. Dan boleh juga melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Balita yang tenang dunia pra hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun bocah yang kelulusan dengan tata sudah berusia empat hari di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada bapak si balita. Namun apabila seseorang yang belum di sembelihkan hewan aqiqah oleh orang tuanya hingga ia besar, dipastikan dia dapat menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jikalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri dipastikan hal tersebut tidak apa-apa menurut hamba, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan saat hari ketujuh dari kelahiran. Jika gak bisa, dipastikan pada hari keempat belas kasihan. Dan jika gak bisa lagi, maka saat hari ke-2 puluh wahid. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Namun demikian, bahwa ternyata begitu kecil ia belum diaqiqahi, ia siap melakukan aqiqah sendiri di saat mantap. Satu saat al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad meningkah, “Menurutku, bila ia belum diaqiqahi begitu kecil, maka lebih indah melakukannya seorang diri saat gede. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Menurut mereka, anak-anak yang sudah biasa dewasa yang belum diaqiqahi oleh sosok tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Nominal hewan aqiqah minimal ialah satu ekor baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan serta Husain satu domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Serbuk Dawud serta Ibnu Al Jarud)

Aku harus pulih bahwa Laksmi dan Husain adalah bujang kembar. Jadi pada wahid kelahiran ini disembelih dua ekor kibas.

Namun yang lebih utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki dan 1 sudut untuk bujang perempuan berdasarkan hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor domba dan dari anak dara satu kontrol. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang berarti: “Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki dua ekor sedia yang sama dan daripada anak cewek satu kontrol. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan secara ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang keturunan

1. Disunnatkan untuk memberikan nama & mencukur serabut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir pada hari Ahad, ‘aqiqahnya tanggal pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kibas sedang bagi anak dara 1 upaya.

3. aqiqah murah bandung ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan mendapatkan orang tua si anak, akan tetapi boleh pun dilakukan sambil keluarga lainnya (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah tersebut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Cantik Mentah Atau Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor wedus untuk bani dan wahid ekor wedus untuk keturunan perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Ketuat aqiqah diberikan kepada tetangga dan melarat miskin pula bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim. Bahkan jika hal itu dimaksudkan untuk memukau simpatinya & dalam bagan dakwah. Dalilnya adalah tutur Allah, “Mereka memberi merampas orang melarat, anak yatim, dan tahanan, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada saat itu merupakan orang-orang kufur. Namun demikian, keluarga juga boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Pada masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa memandang apakah jantan atau puan, sebagaimana babad di pangkal ini:

Daripada Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia sudah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka tutur beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor wedus dan untuk anak perempuan satu termuda kambing. Bukan menyusahkanmu baik kambing itu jantan atau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum mendapatkan dalil yang lain yang menampakkan adanya satwa selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Waktu yang dituntunkan oleh Rasul SAW berdasar pada dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 per kelahiran bujang tersebut. [Lihat kaidah riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Tentang hal dagingnya oleh sebab itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, serta mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat & tetangga untuk menyantap santapan daging aqiqah yang sudah biasa matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada kaum muslimin, dan mahir mengundang teman2 dan macam untuk menyantapnya, atau mahir juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Rumpun Bazz berkata: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya & memasaknya lantas mengundang orang2 yang tuan lihat gesit diundang dari kalangan suku, tetangga, teman2 seiman & sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, serta hal sedarah dikatakan sebab Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi bahwa ada hubungan antara makna sebuah seri dengan yang diberi seri. Hal ini ditunjukan beserta adanya sekitar nash syari yang memberitahukan hal ini.

Dari Serbuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam hendaknya Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menggubris sunah, ia akan meraih bahwa makna-makna yang terkandung dalam seri berkaitan dengannya sehingga seumpama makna-makna ini diambil darinya dan seumpama nama-nama ini diambil daripada makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui akibat nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Saya datang mendapatkan Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Ibnu Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang baik untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang cantik yang layak diberikan ialah nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana tutur beliau: Daripada Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari segi ajaran Islam, silahkan klik:

Memberi Nama Bayi atau Anak Secara Islami


Memotong Rambut

Membabat rambut ialah anjuran Rasul yang luar biasa baik untuk dilaksanakan saat anak yang baru lahir pada hari ketujuh.

Pada hadits Samirah disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terikat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi identitas, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik memberitahukan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Lembut dan Husein lalu beliau menyedekahkan argentum seberat serat tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut mesti dilakukan dengan rata; tidak boleh hanya mencukur beberapa kepala serta sebagian yang lain dibiarkan. Pasti lah semakin banyak serabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar pula sedekahnya.

Ciri Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Berarti: Dengan pamor Allah, ya Allah terimalah (kurban) mulai Muhammad & keluarga Muhammad serta atas ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa bocah baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk bujang ini secara kalimat Allah Yang Baik dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat jorok bagi segala sesuatu yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari sisi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di satu situs punya beberapa hikmah diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA SERIKAT tatkala Yang mahakuasa SWT menyelesaikan putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Di dalam aqiqah berikut mengandung point perlindungan atas syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir itu, dan ini sesuai beserta makna hadits, yang memiliki arti: “Setiap budak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih terlindung dari gangguan syaithan yang sering mengocok anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sebab Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai per aqiqahnya”.

3. Aqiqah adalah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak saat hari perkiraan. Sebagaimana Kepala Ahmad menyiarkan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat untuk kedua orang2 tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) lawan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada karunia yang dianugerahkan Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya sang anak.

5. Aqiqah serupa sarana menunjukkan rasa makmur dalam mengusahakan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukminat yang mau memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan masih banyak juga hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Manjapada al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free homepage created with Beep.com website builder
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!